Harga Emas Melonjak 1%, Data Kuat AS Tak Goyahkan Tren Naik

Harga Emas Dunia Melonjak 1% Meski Data Ketenagakerjaan AS Tunjukkan Kekuatan

Ilustrasi harga emas. (Foto: AP/ Mark Baker)

NEW YORK – Harga emas dunia kembali menanjak pada perdagangan Rabu (11/2/2026) setelah pelaku pasar menyerap data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang solid. Kenaikan ini menegaskan bahwa tren bullish logam mulia tetap bertahan di tengah kuatnya indikator ekonomi Negeri Paman Sam.

Harga emas spot naik 1,21% ke level US$ 5.086,58 per ons troi. Dalam sesi yang sama, harga sempat menyentuh level tertinggi harian di US$ 5.118,47 per ons troi sebelum terkoreksi tipis. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS pengiriman April menguat 1,6% ke posisi US$ 5.111,46 per ons troi.

Pelaku Pasar Menilai Data Tenaga Kerja AS Tak Ubah Tren Naik Emas

Laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja meningkat sepanjang Januari, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%. Data tersebut memperlihatkan pasar tenaga kerja yang tetap tangguh dan memberi ruang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga sambil terus memantau perkembangan inflasi.

Namun demikian, pelaku pasar memandang satu laporan tenaga kerja yang kuat belum cukup untuk membalikkan arah kenaikan emas. Trader logam independen Tai Wong menegaskan bahwa laporan solid sekali waktu tidak akan mengubah pola pikir investor yang membeli emas untuk kepentingan jangka panjang dan fundamental.

Ia menambahkan bahwa setelah sempat mengalami koreksi tajam, harga emas kembali membentuk pola kenaikan bertahap dengan level tertinggi dan terendah yang terus meningkat. Kondisi tersebut memperkuat keyakinan investor terhadap prospek emas di tengah tingginya beban utang global serta meningkatnya dorongan diversifikasi aset dari Amerika Serikat.

Sebelumnya, harga emas sempat tertekan pada 30 Januari dan 2 Februari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pilihannya untuk posisi ketua bank sentral. Meski begitu, secara year to date harga emas masih melonjak lebih dari 17%, melanjutkan reli tahun lalu yang mencetak rekor berkat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global serta aksi beli agresif bank sentral berbagai negara.

Di sisi lain, data penjualan ritel AS pada Desember tercatat stagnan di luar ekspektasi pasar. Kondisi tersebut memunculkan indikasi perlambatan belanja konsumen yang berpotensi memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini.