Harga Emas Belum Akan Putar Haluan, Kata Ahli Strategi

Ahli Strategi Menilai Harga Emas Belum Akan Berbalik Arah pada 2026

Ilustrasi emas batangan. (Foto ilustrasi: Antara/Reuters/Heinz-Peter Bader/aa)

Harga emas global dinilai masih berada dalam jalur kenaikan meskipun sempat menghadapi fase ambil untung jangka pendek. Di Jakarta, pandangan optimistis ini menguat seiring harga emas dan pasar saham Amerika Serikat bergerak mendekati level rekor. Kondisi tersebut mempertegas peran emas sebagai instrumen lindung nilai yang tetap relevan dalam portofolio investor global.

Aakash Doshi Meyakini Harga Emas Berpeluang Tembus US$ 5.000

Kepala strategi emas State Street Investment Management, Aakash Doshi, menyatakan harga emas berpotensi menembus level US$ 5.000 per troy ons pada 2026. Dalam wawancara yang dikutip dari Kitco News pada Selasa, 20 Januari 2026, Doshi menegaskan bahwa koreksi singkat tidak akan mengubah tren kenaikan utama emas. Ia menilai peluang emas mencapai level tersebut dalam enam hingga sembilan bulan ke depan kini mendekati 40%.

Konsolidasi Jangka Pendek Tidak Mengubah Tren Kenaikan Emas

Doshi menjelaskan bahwa aksi ambil untung selama beberapa hari atau bahkan satu bulan hanya mencerminkan konsolidasi sehat. Menurutnya, fase tersebut justru memperkuat fondasi reli emas berikutnya. Ia menilai pasar saat ini masih memandang emas sebagai aset strategis, terutama ketika ketidakpastian global terus meningkat.

Rekor Saham dan Emas Menguatkan Peran Lindung Nilai

Pandangan Doshi muncul ketika harga emas dan indeks saham utama Amerika Serikat diperdagangkan di dekat rekor nominal. Ia menilai situasi tersebut memperkuat fungsi emas sebagai pelindung nilai portofolio. Doshi menyebut bahwa kombinasi ekuitas yang mahal dan emas yang berada di level tertinggi justru meningkatkan keyakinannya untuk tetap memegang emas.

Fokus Risiko Ekstrem Menggeser Peran Suku Bunga

Doshi menilai kekuatan harga emas saat ini mencerminkan fokus pasar terhadap risiko ekstrem, bukan semata narasi suku bunga. Ia menyebut kebijakan moneter kini menjadi faktor sekunder dalam pergerakan emas. Menurutnya, investor lebih memperhatikan potensi guncangan geopolitik dan risiko sistemik yang dapat memicu volatilitas besar di pasar keuangan.

Jeda Kebijakan The Fed Tetap Mendukung Kinerja Emas

Dalam skenario dasar, Doshi memperkirakan The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga hingga awal 2026. Ia menegaskan bahwa secara historis emas mampu berkinerja baik selama periode jeda kebijakan yang berkepanjangan. Doshi menambahkan bahwa emas dapat terus menguat selama arah kebijakan jangka panjang masih mengarah pada potensi pemangkasan suku bunga di masa depan.