Analis Ungkap Sentimen Global yang Akan Dorong Harga Emas 2026

JAKARTA, investor.id – Analis memproyeksikan harga emas pada 2026 tetap bergerak dalam tren positif seiring menguatnya sejumlah sentimen global. Faktor geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat, hingga langkah bank sentral dunia dinilai akan terus menopang pergerakan logam mulia tersebut.
Manajer Portofolio dan Emas di VanEck, Imaru Casanova, menegaskan permintaan investasi yang solid, pembelian agresif oleh bank sentral, serta fundamental sektor pertambangan yang semakin sehat akan menjaga prospek bullish emas tahun depan dan seterusnya.
Ia menyampaikan pandangan tersebut kepada Kitco News pada Jumat (13/2/2026). Menurut dia, meningkatnya risiko geopolitik dan ketegangan perdagangan global akan menjadi katalis utama penguatan harga emas sepanjang 2026.
Casanova Menilai Risiko Geopolitik dan Inflasi Perkuat Daya Tarik Emas
Casanova menjelaskan ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik hingga ancaman tarif dan sanksi Amerika Serikat, terus mendorong investor mencari aset lindung nilai. Ia juga menyoroti kekhawatiran inflasi, potensi pelemahan dolar AS, serta risiko koreksi signifikan di pasar saham sebagai faktor yang memperbesar minat terhadap emas.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa setiap pencapaian rekor harga baru berpotensi diikuti koreksi jangka pendek dan fase konsolidasi. Namun, ia meyakini siklus bullish emas masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.
Harga Emas Tembus US$5.000 dan Cetak Rekor Intraday Awal Tahun
Pada awal 2026, harga emas mencatat lonjakan signifikan. Casanova mengungkapkan kombinasi meningkatnya ketegangan global, termasuk dinamika yang melibatkan Venezuela, Iran, dan Greenland, mendorong harga emas menembus US$5.000 per troy ons pada 26 Januari.
Tiga hari kemudian, tepatnya 29 Januari, harga emas menyentuh rekor intraday US$5.595 per ons. Level tersebut melonjak hampir US$1.300 dibanding posisi akhir 2025. Penembusan level psikologis itu memicu aksi beli spekulatif dalam waktu singkat.
Pasar Bereaksi terhadap Isu Ketua The Fed dan Picu Koreksi Tajam
Meski demikian, reli tajam tersebut tidak berlangsung mulus. Pasar segera bereaksi terhadap pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed, yang memicu aksi jual besar-besaran. Harga emas bahkan sempat anjlok sekitar 9% dalam satu hari perdagangan.
Casanova menilai volatilitas tersebut justru menegaskan peran emas sebagai aset aman sekaligus alternatif dolar AS. Menurut dia, fluktuasi ekstrem di level rekor tidak seharusnya menghalangi investor untuk mempertahankan eksposur terhadap emas.
Ia menegaskan prospek jangka panjang emas tetap didukung langkah bank sentral dan investor global yang terus mencari perlindungan, diversifikasi, serta strategi de-dolarisasi dalam cadangan dan portofolio mereka.
