Harga Emas Domestik Terkoreksi Usai Rekor pada Minggu 1 Februari 2026

Harga emas domestik mengalami koreksi pada Minggu, 1 Februari 2026, setelah mencatatkan rekor tertinggi di pertengahan pekan. Pergerakan harga yang fluktuatif mencerminkan volatilitas pasar yang meningkat seiring aksi ambil untung investor menjelang akhir pekan. Koreksi ini terjadi meskipun sentimen global terhadap emas masih relatif positif.
Selama sepekan terakhir, harga Emas Antam turun sekitar 1,95 persen dari Rp2.917.000 per gram menjadi Rp2.860.000 per gram. Pada periode yang sama, harga Emas Treasury juga terkoreksi sekitar 2,36 persen dari Rp2.874.624 per gram ke Rp2.806.875 per gram. Penurunan ini menandai berakhirnya reli tajam yang sempat mendorong harga ke level tertinggi baru.
Pergerakan Harga Pekanan Menunjukkan Volatilitas Tinggi
Pergerakan harga Emas Antam diawali dengan pelemahan tipis pada Selasa ke Rp2.916.000 per gram. Harga kemudian melonjak signifikan pada Rabu menjadi Rp2.968.000 per gram dan kembali menguat pada Kamis hingga menyentuh Rp3.168.000 per gram. Namun, tekanan jual mulai mendominasi pada Jumat sehingga harga turun ke Rp3.120.000 per gram, sebelum akhirnya melemah tajam pada Sabtu ke Rp2.860.000 per gram.
Harga Emas Treasury juga menunjukkan pola serupa. Pelemahan ringan terjadi pada Selasa ke Rp2.868.433 per gram, lalu harga kembali menguat pada Rabu ke Rp2.978.394 per gram. Puncak harga tercapai pada Kamis di level Rp3.147.008 per gram, sebelum koreksi berlanjut pada Jumat dan Sabtu hingga mencapai Rp2.806.875 per gram.
Sentimen Global Menopang Prospek Emas ke Depan
Meskipun terkoreksi, tren emas secara fundamental masih menunjukkan kekuatan. Permintaan lindung nilai tetap tinggi di tengah ketidakpastian kebijakan moneter dan dinamika geopolitik global. Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi faktor utama yang memengaruhi arah harga emas, terutama terkait peluang pelonggaran suku bunga sepanjang 2026.
Sejumlah lembaga keuangan global bahkan menaikkan proyeksi harga emas. Goldman Sachs mematok target harga emas di level USD5.400 per troy ons pada 2026. Societe Generale dan Deutsche Bank melihat potensi harga mencapai USD6.000 per troy ons, sementara Morgan Stanley menilai skenario bullish menuju USD5.700 per troy ons masih realistis.
Investor Memanfaatkan Koreksi sebagai Peluang Akumulasi
Dari sisi teknikal, indikator RSI yang berada di atas level 80 dan Stochastic RSI yang mendekati area ekstrem menunjukkan kondisi jenuh beli. Situasi ini membuka ruang koreksi sehat dalam jangka pendek. Namun, dengan dukungan fundamental yang kuat, bias pergerakan emas dalam jangka pendek hingga menengah masih cenderung menguat.
Kondisi tersebut mendorong investor untuk memanfaatkan pelemahan harga sebagai peluang akumulasi strategis. Emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai yang menarik, terutama untuk investasi jangka menengah dan panjang di tengah ketidakpastian ekonomi global.
