Emas Masuk Pekan Berbahaya, Level US$5.000 Tak Lagi Aman

Tekanan Dolar AS Seret Harga Emas Turun di Awal Pekan
Emas batangan

Harga emas global memulai pekan dengan pelemahan di tengah penguatan dolar Amerika Serikat. Pada Senin, 16 Maret 2026 pukul 06.32 WIB, harga emas berada di level US$4.988,69 atau turun sekitar 0,6% berdasarkan data Refinitiv.

Penurunan ini memperpanjang koreksi yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya. Pada perdagangan Jumat, harga emas juga merosot sekitar 1,2% hingga berada di level US$5.018,42. Kondisi tersebut menandakan tekanan jual masih membayangi pasar logam mulia.

Biasanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong permintaan emas sebagai aset safe haven. Namun situasi kali ini menunjukkan dinamika berbeda. Ketegangan di Iran serta risiko gangguan di Selat Hormuz justru mendorong lonjakan harga minyak mendekati US$120 per barel sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Investor Alihkan Dana ke Dolar AS dan Obligasi Pemerintah

Kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi membuat investor mengalihkan perhatian dari emas ke aset berbasis dolar AS. Banyak pelaku pasar memilih dolar Amerika Serikat serta obligasi pemerintah AS atau Treasury yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

Ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk menahan inflasi semakin memperkuat posisi dolar AS. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, sejumlah manajer investasi menilai emas menjadi kurang kompetitif dibandingkan aset berbunga.

Akibat perubahan preferensi ini, persaingan antara emas dan dolar sebagai aset aman semakin ketat. Dalam kondisi saat ini, dolar AS untuk sementara berhasil menarik lebih banyak minat investor.

Pelaku Pasar Menunggu Keputusan FOMC Pekan Ini

Pasar emas juga menghadapi ketidakpastian menjelang rapat Federal Open Market Committee yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini. Berdasarkan proyeksi FedWatch, sekitar 99% pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga.

Selain itu, sebagian besar investor kini hanya memprediksi satu kali pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Ekspektasi tersebut mendorong indeks dolar AS menguat hingga mencapai level 100,36 pada perdagangan Jumat, yang menjadi posisi tertinggi sejak Mei 2025.

Penguatan dolar memberikan tekanan tambahan pada harga emas karena perdagangan logam mulia global menggunakan mata uang tersebut. Ketika dolar menguat, biaya pembelian emas bagi investor di luar Amerika Serikat menjadi lebih mahal sehingga permintaan berpotensi menurun.

Level US$5.000 Menjadi Ujian Penting bagi Harga Emas

Pergerakan teknikal menunjukkan emas menghadapi tekanan signifikan pada pekan ini. Harga emas sebelumnya turun di bawah pola segitiga simetris yang menandakan potensi kelanjutan tren pelemahan.

Saat ini emas kesulitan kembali menembus level US$5.047 yang sebelumnya menjadi area support tetapi kini berubah menjadi resistance. Jika tekanan jual berlanjut dan harga jatuh di bawah US$5.000, pasar berpotensi menguji support berikutnya di sekitar US$4.960.

Dalam skenario yang lebih dalam, harga emas bahkan bisa mendekati rata-rata pergerakan 50 hari di sekitar US$4.842. Sebaliknya, agar tren kembali positif, emas perlu menembus level US$5.130 sehingga menunjukkan bahwa koreksi saat ini hanya bersifat sementara.

Permintaan Bank Sentral Menopang Prospek Jangka Panjang Emas

Meski mengalami tekanan dalam jangka pendek, prospek emas dalam jangka panjang masih dinilai kuat. Sejumlah bank sentral, terutama di negara berkembang, terus meningkatkan cadangan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.

Para analis memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral global dapat bertahan di sekitar 60 ton per bulan hingga 2026. Permintaan yang stabil dari sektor pemerintah ini berperan penting dalam menahan tekanan penurunan harga.

Beberapa lembaga keuangan besar, termasuk Goldman Sachs serta analis Ed Yardeni, tetap optimistis terhadap prospek emas. Mereka memperkirakan harga emas berpotensi mencapai kisaran US$5.400 hingga US$6.000 pada akhir tahun seiring meningkatnya minat terhadap aset yang tidak bergantung pada mata uang tradisional.