Harga Emas Global Menguat di Tengah Ketidakpastian Geopolitik dan Ekonomi

Harga emas global kembali melonjak pada awal pekan ini, menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan dinamika ekonomi dunia. Di Jakarta, logam mulia ini diperdagangkan di kisaran US$ 4.672 per troy ounce pada Senin, 19 Januari 2026, setelah sempat menurun ke level terendah empat hari sebelumnya. Lonjakan lebih dari 1,5% ini mendekatkan harga emas pada level psikologis US$ 4.700, menyusul pencapaian rekor tertinggi baru sebelumnya.
Andy Nugraha Menilai Tren Bullish Emas Tetap Kuat
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai pergerakan emas saat ini tetap berada dalam jalur konstruktif. Formasi candlestick dan arah indikator Moving Average menunjukkan tren bullish yang solid, dengan harga mampu bertahan di atas level support utama. Andy menyebut dominasi minat beli masih kuat dan tekanan jual relatif minim meski harga berada pada level tinggi.
Investor Bisa Menargetkan Level US$ 4.750
Dalam proyeksi jangka pendek, Andy Nugraha menilai selama sentimen pasar tetap fokus pada risiko global, emas berpotensi melanjutkan penguatannya. Ia memprediksi level US$ 4.750 dapat menjadi target kenaikan berikutnya, karena area ini menjadi titik magnet harga jika aliran dana ke aset safe-haven tetap berjalan. Namun, ia mengingatkan bahwa harga mendekati puncak historis biasanya diiringi volatilitas tinggi, dan zona US$ 4.565 akan menjadi penopang terdekat jika terjadi aksi ambil untung.
Ketegangan Perdagangan Global Dorong Reli Emas
Reli emas kali ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan perdagangan global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif terhadap delapan negara Eropa terkait akuisisi Greenland oleh AS. Tarif awal 10% mulai Februari berpotensi naik hingga 25% pada pertengahan tahun jika kesepakatan gagal tercapai. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran perang dagang yang lebih luas, sementara Uni Eropa menyiapkan opsi balasan berupa tarif puluhan miliar euro terhadap impor AS.
Dolar AS Melemah dan Emas Mendapat Dukungan
Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter AS turut memengaruhi pergerakan emas. Meskipun Federal Reserve diperkirakan menahan suku bunga, proyeksi pemangkasan yang lebih lambat menimbulkan ketidakpastian pasar. Di sisi lain, Dolar AS melemah dengan Indeks Dolar AS (DXY) berada di 99,02, memberikan dorongan tambahan bagi emas. Dengan latar belakang ini, Andy Nugraha menilai bias pergerakan emas tetap positif dan logam mulia berpotensi mempertahankan tren bullish dalam waktu dekat.
