Cuan dari Emas Makin Tak Terbendung

Lonjakan Harga Emas Mendorong Arus Cuan Global Semakin Deras

Pramuniaga menunjukkan stok emas batangan lokal yang tersisa di sebuah gerai emas dan perhiasan di Malang, Jawa Timur, Rabu (16/4/2025). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

JAKARTA — Emas kembali membuktikan diri sebagai sumber keuntungan utama di tengah lonjakan harga global yang memicu pembelian besar-besaran. Kenaikan harga logam mulia tersebut mendorong aktivitas perdagangan lintas negara dan meningkatkan kontribusi emas terhadap kinerja ekspor sejumlah negara produsen maupun pusat perdagangan.

Momentum reli harga emas terlihat jelas di Afrika, khususnya Uganda, yang mencatat lonjakan signifikan nilai ekspor emas sepanjang 2025. Kenaikan harga emas dunia menarik lebih banyak pelaku usaha masuk ke sektor ini dan memperkuat posisi emas sebagai komoditas unggulan.

Uganda Memanfaatkan Reli Harga Emas untuk Meningkatkan Ekspor

Uganda mencatatkan lonjakan ekspor emas sebesar 75,8% sepanjang 2025 dibandingkan 12 bulan sebelumnya. Data yang dikutip dari CNBC pada Kamis, 22 Januari 2026, menunjukkan nilai ekspor emas Uganda mencapai US$ 5,8 miliar, melonjak dari US$ 3,3 miliar pada 2024. Bank sentral Uganda menyebut reli harga emas global menjadi faktor utama di balik lonjakan tersebut.

Direktur Eksekutif Riset dan Analisis Ekonomi Bank of Uganda, Adam Mugume, menyatakan harga emas yang terus menanjak telah menarik banyak pedagang baru ke bisnis logam mulia. Masuknya pelaku baru ini secara langsung mendorong volume ekspor dan memperkuat kinerja devisa negara.

Emas Menyalip Kopi sebagai Andalan Devisa Uganda

Kenaikan ekspor emas membuat komoditas ini melampaui kopi sebagai penyumbang devisa terbesar Uganda. Perubahan ini menandai pergeseran struktur ekspor negara tersebut, yang kini semakin bergantung pada perdagangan logam mulia di tengah volatilitas harga komoditas lain.

Uganda juga berkembang sebagai pusat pengolahan dan perdagangan emas regional. Negara ini menjadi hub bagi emas yang dikirim dari kawasan sekitar, termasuk Kongo bagian timur dan Sudan Selatan. Meski produksi emas domestik Uganda relatif kecil, posisinya sebagai pusat perdagangan memperkuat perannya dalam rantai pasok emas Afrika.

Investasi Tambang Memperkuat Prospek Jangka Panjang

Pemerintah Uganda terus memperkuat fondasi industri emas dengan meresmikan tambang emas skala besar pertamanya di wilayah timur. Proyek senilai US$ 250 juta tersebut digarap oleh investor asal China dan diharapkan meningkatkan kapasitas produksi nasional sekaligus menarik investasi lanjutan.

Langkah ini mempertegas strategi Uganda dalam memaksimalkan momentum reli harga emas global. Dengan kombinasi harga yang menarik, arus investasi, dan posisi strategis sebagai pusat perdagangan, emas diproyeksikan tetap menjadi sumber cuan utama yang menopang pertumbuhan ekonomi negara tersebut dalam beberapa tahun ke depan.